SURGA DUNIA



Tatapan matamu menikam kedalam hati dan batinku. Aku tertunduk di bawah rasa kagum. Aku tidak lagi merasa bahwa dunia ini penuh bahaya. Aku langsung merasa nyaman

dihangatkan oleh caramu memandang dan menatapku. Kamu terus diam, membiarkan aku menatapmu, mungkin kamu berharap dengan itu aku puas lalu bosan. Oh tidak. Tidak ada kata bosan menatap di hadapan wajahmu yang sangat istimewah dan sempurna di mataku. Aku tak berani menyentuhmu. Kupikir dengan itu mungkin aku akan melukai dan menodai kekagumanku. Rambutmu yang terurai indah membungkus sebagian telingamu memancarkan daya tarik tersendiri. Kamu cantik dan mempesona.

Belum kutemukan noda pada wajahmu. Kedalaman hati sucimu terpancar dari tatapanmu. Terangnya menyinari diriku yang gelap dihantui rasa sesal dan bingung. Kamu masih sempurna di antara ciptaan yang lain. Hadirmu di depanku adalah jalan yang akan terus menuntun aku untuk tampil secara lain dalam memaknai hidup. Kamu membuat aku berani keluar dari pendewaan dan pemujaan terhadap idealisme hidup suci. Hadirmu membuat aku lupa bahkan membenci bahwa warta kabar gembira adalah panggilan mulia nan agung. Hadirmu memutarbalikkan semua cita-cita yang mengarahkan aku ke Surga yang mungkin pernah ditanamkan ke dalam diri dan hatiku. Dirimu telah menjadi surga dunia.
Iklan

NAFAS RINDU


Kamu di mana?
                Adakah getaran rindu di hatimu?
Aku bergulat dengan sederatan rasa
Itu menghadirkan dirimu
Bukan hanya bayangan
Dirimu, hanya kamu

                Sejenak aku terdiam
                Membiarkan nafas rindu berhembus panjang
                Yang akan mengabarimu tentang harapan
                Dari dia yang diterpa rasa rindu dan cinta
Kamu datang pada saatnya
Hati mau berkata jujur, kamu patut dikagumi
Itulah dirimu
                Untuk apa aku ada? Hanya kamu yang tahu
                Itulah aku dan dirimu
Melawan dunia adalah takdirku walau itu menyakitkan
Tetapi…Semua ini demi aku dan kau


Demi kebahagiaanmu
Itu hatiku dan hatimu

TAK SEKEDAR IMAJINASI


Pagi ini aku terbangun. Bayangan wajahmu langsung menyapaku. Seolah bulan purnama di luar kamarku
menyatukan dan menerangi hati kita untuk tak pernah saling melupakan. Musik yang sengaja kuperdengarkan makin menyempurnakan situasi batinku saat ini. Suara manis nan lembutmu sedang menggema kuat ke kedalaman hatiku yang sedang mencari arti hidup dan kebahagiaan. Kamu hadir bagai malekat kecil yang hanya memberikan yang terbaik buat anak manusia.
Mungkin saat ini kamu sedang terlelap dalam tidurmu. Hari belum terlalu pagi untuk bangun dari tidur. Tapi kuberharap, kamu saat ini sedang bermimpi melihat seorang yang hanya mau mencintaimu kapan dan di mana pun. Masukilah ruang hatinya yang ia siapkan hanya untukmu.
Aku sadar dalam kacamata dunia, rasa yang kualami saat ini mungkin sesuatu yang aneh. Tapi bagiku yang berkacamata cinta seperti yang sedang kukenakan, segalanya sebagai sesuatu yang indah yang patut dikagumi dan disyukuri. Aku siap menaklukkan dunia demi keindahan dan kekaguman itu. Dan itu hanya aku dan dirimu yang tahu.
Hari-hari hidup ini menjadi semakin membahagiakan tatkala bayangan diri bahkan dirimu sendiri hadir di dalamnya. Aku sulit membuktikannya tapi ku yakin kamu tahu itu. Good morning, let`s go together where ever we go.
Mungkin aku dibilang “gila-gilaan” atau bahkan dibilang “gila”. Aku juga sadar bahwa antara aku dan dirimu mungkin sudah terbentang jurang dalam dan lebar. Namun aku adalah seorang manusia yang masih harus bermain dan hidup dengan rasa dan pikiran seorang manusia.
Aku merindukanmu dengan sepenuh hatiku. Hari-hari ini bayangan dirimu makin masuk lebih dalam ke dalam hatiku. Aku membayangkan sebuah kehidupan tempat kita berdua menjalani hidup. Mungkin dirimu akan tetap menjadi seorang pribadi dalam imajinasiku sampai dunia hidupku berakhir, tetapi aku harus mengatakan kepadamu bahwa aku merindukanmu. Aku selalu menyempatkan diriku di sela-sela kesibukan untuk memikirkan dan membayangkan dirimu yang bagiku sangat sempurna. Mungkin ini terdengar berlebihan tetapi aku mengatakan yang sebenarnya. Seakan tahun-tahun yang telah kulewati sebagai rajutan cintaku padaku.
Betapa bodoh dan gilanya seorang yang mencintai seorang yang hanya hadir dalam imajinasinya. Tetapi kamu tahu, imajinasi tidak pernah hadir begitu saja tanpa sebuah pengalaman yang menggetarkan. Dan pengalaman itu telah terjadi antara kita walau mungkin kamu tak menyadarinya. Biarkan aku melewati hari-hariku bersama bayangamu.
Sejak aku mengenalmu, aku seakan menjadi pribadi petualang yang terus berusaha dan mencari apa artinya hidup. Dalam pencarian itu aku lebih sering mendapati diriku sedang merindukan dan diam-diam mengagumi dan mencintaimu. Dunia ternyata memberikan sinyal inspiratif agar aku makin mengenalmu.    
                    Hari-hariku sering kulalaui bersama kenangan-kenangan indah ketika kita berdua melewati waktu secara istimewah walau sejenak. Kita pernah berlayar bersama mengarungi lautan pencarian. Pada kesempatan itu kita tidak hanya berbagi pengalaman dan cerita bersama tetapi lebih dari itu.
Sentuhan tubuhmu seakan masih kurasakan sampai saat ini detik ini. Kamu tentu juga masih ingat ketika jari-jari tanganmu kutuntun untuk memainkan lagu cinta dan persahabatan pada tuts-tuts piano. Saat aku bisa menatap hatimu lebih dekat dan merasakan getarannya sehingga sampai saat ini aku masih berusaha menjadikan getaran itu nada-nada indah. Suatu saat itu akan menjadi sebuah lagu yang boleh dinyanyikan oleh dirimu dan aku di sampingmu untuk mengiringinya, dan lebih dari itu mendampingimu. Untuk  itu tataplah bintang yang sekarang masih memancarkan cahaya rembulannya karena aku pun sedang menatapnya. Ku harap kita beradu pandang dan membiarkan birunya langit dan sejuknya udara pagi mengantar kita mengelilingi alam ciptaan Sang Kuasa.
                    Aku masih ingat ketika kita hanya berdua melewati sebuah lorong tempat aku menemukan jalan yang harus kutempuh untuk hidup. Waktu itu kita menjaga jarak karena kita masing-masing sadar bahwa bukan saat dan tempat yang tepat hanya berdua berjalan seperti itu apalagi pada malam hari. Aku masih terikat oleh sebuah dinding yang ternyata mengantar aku untuk mengenal dan mencintaimu. Tetapi kalau aku boleh jujur, waktu itu justeru hatiku terasa dekat denganmu. Aku melewati malam itu bersama kenangan itu. Kamu tahu aku juga seorang pribadi manusia. Tak ada yang salah dalam hal ini ketika kamu mengetahui apa sebenarnya hidup.
                    Saat ini aku duduk termenung menantikan saat yang tepat agar bisa berziarah ke dunia yang lebih luas dan kalau boleh bersama bayangan dirimu. Aku ternyata tak bisa menyangkal diriku. Aku hidup apa adanya, lagi-lagi kalau boleh bersama bayanganmu. Walau hanya bayangan, itu sudah cukup. Apalagi kalau bersama dirimu, aku makin merasakan indah dan bahagianya hidup.
Aku tunduk dan tertegun di bawah bayangan dirimu. Pengalaman bersamamu telah membuat aku selalu merindukanmu. Aku bahkan seakan tertawan oleh rasa rindu itu. Aku mencoba membawa dirimu dalam mimpi dan tidurku. Tetapi aku masih saja gelisah. Dirimu terus menyapaku dengan lembut. Aku sulit lari dari kenyataan ini.
                Andaikata saat ini dirimu di sisiku, ingin kupegang tangan lembutmu, ingin kurangkul tubuhmu dan kucium keningmu lalu kubisikkan kata-kata yang membawa kita dalam pelukan mesra nan erat.
                Mengapa wajahmu yang pertama menyapaku saat aku bangun dari tidur? Mengapa dirimu yang kuingat terakhir sebelum aku memejamkan mata lalu terlarut dalam tidur? Mengapa suara sapaanmu selalu terngiang dalam relung hatiku? Gema suaramu menghanyutkan aku dalam arus rasa yang sulit kupahami. Cahaya wajahmu menerangi diri dan hatiku. Ingin kumemangku dirimu lalu kukecup keningmu. Kapan itu akan terjadi? Mungkin akan selalu menjadi harapan dan mimpi tanpa pernah terwujud. Sebab kutahu, dunia belum mengizinkan semuanya terjadi.

FOTOMU


Fotomu ingin selalu kupandang dan kutatap. Aku menemukan sesuatu yang lain di dalamnya. Sudah lama aku menantikan

saat untuk melihat kembali wajahmu. Kesederhanaanmu makin membuat aku merasa terpikat olehmu.

                 Saat ini aku makin merindukanmu. Hari ini menjadi salah satu hari bahagia dalam hidupku. Itu terutama karena pengalaman melihat fotomu. Dirimulah yang paling berpengaruh dalam setiap langkah-langkahku sejak aku mengenalmu. Betapa lamanya waktu aku terbuai oleh dirimu. Mungkin sisa hidupku akan terus dikendalikan oleh pengalaman perjumpaan denganmu.
                Aku sering bingung, mengapa sampai begini. Aku sadar bukan hanya kamu perempuan di bumi ini. Sudah banyak aku mengenal perempuan. Mereka bergaul baik denganku. Namun dirimu lebih berpengaruh. Pengalaman selama sekian tahun seakan menjadi fondasi yang kuat agar aku selalu merindukanmu. Apa sebenarnya yang kucari dalam pengalaman seperti ini? Apakah aku salah dengan perasaan ini?
                Pengalaman melihat dirimu dalam foto dunia maya masih sangat berpengaruh bagi hari-hari hidupku sampai saat ini. Aku merasa lebih senang mengisi waktu untuk bermain dengan rasa ini sekaligus mengolahnya menjadi tenaga kreatif. Aku tak mau melewati begitu saja pengalaman ini. Mungkin aku akan menyesal kalau aku melewatinya. Aku berusaha di tengah kesibukanku untuk mengungkapkan apa kata hatiku.

Sentuhan Cinta


           

   Rasa itu tiba-tiba muncul. Diripun terbuai. Batin  terbawa arus, arus rasa rindu. Kerinduan mungkin sedang berkata tentang rasa yang lebih dari itu.
Rindu tidak sekedar mengingat. Kerinduan selalu berkata tentang perasaan yang tersentuh oleh pengalaman indah nan hangat yang pelan-pelan mencuatkan rasa cinta dan kagum, seperti seorang anak yang merindukan papa dan mama, adik dan kakaknya yang telah memberikan cinta dan perhatian yang luar biasa.

      Seolah ada ruang kosong dalam batin yang mesti diisi oleh kehadiran seseorang. Bayangan wajah diri seorang yang menjadi pujaan membuat penasaran. Kadang-kadang kantong pikiran dibuat kosong,  kita tak mampu berpikir apa-apa, selain terlena dalam pelukan rasa rindu.
      Kerinduan pada perempuan seperti dirimu, yang telah memberikan cinta dan perhatian, atau sekedar pernah menebarkan pesonamu, akan terus kukisahkan.
      Untunglah kamu datang pada saat aku sedang merindukannmu. Aku sangat bahagia. Mendengar suaramu walau melalui telepon membuat hati terasa sejuk menyenangkan. Sampai saat ini bayangan wajahmu makin jelas terlintas dalam diri, dalam mata hatiku.

Saat ini dan juga pada hari-hari selanjutnya, aku terus berharap, kamu bahagia dan merasakan indahnya hidup sebagai seorang perempuan, sebagai manusia, sebagai anak-anakNya. Doaku akan selalu menyertaimu. Semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi.
Kulewati malam ini bersama dirimu yang selalu membuatku bahagia dan mengagumi betapa hidup ini indah. Kumau kamu hadir selalu dalam langkah-langkah kecilku tentang hidup sejati di dunia ini. Bagiku suaramu sore ini adalah rahmat yang menyejukkan hati yang kadang terasa gersang dan kering.

Suster: Perempuan Mengagumkan


Waktu kecil aku sangat mengagumi beberapa suster di kampungku yang sangat ramah dan pintar mengajari anak-anak. Mereka tentu saja cantik dan manis. Perasan dan naluri kekanakanku dalam mengagumi mereka, ternyata memengaruhi pandanganku terhadap para suster.

Entah sengaja atau tidak, selama menempuh pendidikan sekolah menengah pertama, aku berada di bawah naungan gaya hidup para suster. Aku sekolah dan berasrama yang dikelolah oleh suatu biara suster. Gaya hidup dan pembawaan mereka tentu saja turut membantuku dalam mengembangkan diri.

                Dalam perjalanan hidup selanjutnya pun aku tetap belajar banyak dari para suster, perempuan yang mengagumkan, tidak hanya karena mereka mereka bergaya hidup religius, tetapi juga karena mereka adalah perempuan, makhluk ciptaan Tuhan yang patut dikagumi. Aku bersyukur bisa mengenal dan berelasi dengan para suster.

BUAH TATAPAN PERTAMA


Ketika aku terbangun, bayangan dirinyalah yang pertama menyapaku. Aku pun tak bisa memejamkan mata lagi. Aku terbawa oleh bayangannya.

Mungkin aku terlihat seperti orang aneh. Bolehlah melihat aku seperti itu. Tetapi satu keyakinanku: kalau semua orang mau jujur dengan dirinya, kita semua pun akan disebut orang aneh. Beranilah mengakui pergulatan rasa yang menyentuh dirimu secara sangat mendasar!
                Aku terbuai dengan seorang makhluk yang orang bisa namakan perempuan. Ini terjadi bukan karena aku ngganggur atau kurang pekerjaan. Pengalaman ini menjadi tak akan terlepaskan dari hidupku. Aku tak boleh menyangkal sisi lain hidupku yang tentu sangat mulia. Mungkin aku menjadi korban keganasan rasa yang sedang aku gulati ini (ini kalau orang melihat rasa seperti yang aku alami sebagai suatu yang aneh dan berbahaya). Biarlah itu terjadi dalam diriku. Aku sudah meyakinkn diriku bahwa di balik semua yang kulakukan selalu tersimpan konsekuensi yang mau tak mau aku terima. Dalam hal ini pun aku siap menerima segalanya termasuk ejekan mungkin dari dia yang selalu aku rindukan, yang selalu datang menghiasi hari-hariku.
                Pengalaman-pengalaman kecil selama beberapa tahunlah yang menjadi salah satu alasan mengapa semua ini terjadi. Tidak ada yang istimewah sebenarnya selama sekian tahun itu. Tetapi kalau mau sejenak bernostalgia aku bisa memahami mengapa pengalaman itu jadinya istimewah. Kesan pertama ketika dulu aku pertama kali bertemu dengannya adalah bahwa ia menarik dan cantik. Ya ini ala seorang anak yang baru menamatkan pendidikan dasar. Masih lugu-lugulah. Dalam tahun pertama irama hidup sebagai tahap pengenalan dengan teman-teman baru berjalan apa adanya.
Hubungan persahabatan terus terjalin. Kami sering saling meminjamkan buku catatan. Selama sekian waktu itulah aku sepertinya mengalami sesuatu yang lain bersama dirinya. Kami sering bercerita bersama, ya tentang hal-hal sederhana seperti hidup berasrama atau kadang-kadang tentang keluarga. Kadang-kadang ia menulis namaku pada bukuku yang mungkin hanya mau menunjukkan gaya tulisan dan hurufnya. Demikin juga diriku.
                Dalam perjalan waktu terutama setelah berpisah keberanian untuk mengungkapkan salah satu rasa barulah muncul. Inilah salah satu tragedi dalam hidupku kalau mau dikatakan demikian. Aku terbuai oleh pesan-pesan singkat nan sederhana dari sahabatku yang juga sahabatnya bahwa dia mengirim salam dan pesan persahabatan buatku. Aku tentu saja sangat bahagia mengalami ini. Nah kebahagiaan inilah yang pelan-pelan mendorong diriku untuk mengirim surat buatnya sampai hidup ini jadinya seperti ini. Demikianlah secara singkat gambaran pengalaman diriku bersamanya.
                Ya aku sangat sadar bahwa bukan hal baru aku “menghampiri dirinya” entah melalui surat ataupun melalui cara lain. Aku seakan selalu menemukan cara untuk mengatakan suatu hal kepadanya bahwa aku sebenarnya selalu merindukannya. Aku seakan tak kapok dengan pengalaman sebelumnya.
                 Namun waktu yang terus berjalan seakan tak memampukan aku untuk melaksanakan komitmenku. Waktulah yang mengubah semua ini. Aku tak mampu setia kepada janjiku. Aku hanya bisa bertahan selama sekian tahun, sampai akhirnya aku berani berbicara dengannya setelah secara tak sengaja aku menemukan nomor yang bisa menghubunginya. Ketika aku melakukan ini aku sempat mengingat janjiku untuk tidak berbicara atau bertemu dengan dirinya sampai saat yang tepat tiba. Namun satu hal yang mendorong diriku waktu itu adalah keyakinan dan pemahaman mengenai alam yang membantu setiap manusia yang selalu berharap. Katakanlah aku terpengaruhi oleh semangat The Sacreet Mistery. Adanya kesempatan untuk bisa berbicara dengannya mungkin menjadi kesempatan yang mesti kugunakan karena alam sudah mengizinkan diriku.
                Waktu itu memang tak ada hal istimewah yang terjadi. Kami hanya berbincang-bincang sedehana dan seadanya dengan gurauan di sana-sini. Itu tentu saja memiliki kebahagiaan dan keindahan tersendiri. Aku sangat enjoy melewati pengalaman hidup setelah aku mendengar suaranya.
                Maaf kalau aku sedikit lebay. Ia tidak bedanya dengan para perempuan yang lain. Ia tersenyum biasa. Tubuhnya tentu saja terlihat ramping untuk tidak mengatakan tidak terlalu kurus. Pokoknya tidak salahlah kalau aku mengaguminya.
                Kadang bingung bahkan tertawa geli sendiri. Mengapa bayangan dan perasaan terhadap dirinya selalu merasuki hidupku? Adakah sesuatu yang kurang beres dalam konstruksi tubuh dan hidupku? Pokoknya sejak pertama aku bertemu dengannya, dirinya seolah-olah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku. Ada apa dengan dia? Ada apa dengan aku? Mungkin semuanya mengenai pandangan pertama.